Stop Menabung Rupiah, Buat Harta Anda Berkah
Oleh : Insan Sains
Date : 7 Mei 2012
Oleh : Insan Sains
Date : 7 Mei 2012
Hahaha.. judulnya provokatif banget yah…
Silahkan membaca dengan tenang. Karena
mungkin setelah ini, Anda perlu berlari. Jika perlu, siapkanlah
secangkir teh panas untuk menemani. Uapnya yang mengepul membawa serta
wangi tehnya. Emm.. saya paling menyukai regukan pertama. Regukan
selanjutnya tidak bisa mengalahkan, karena regukan pertama itu pembeda.
Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk
memikirkan kembali harta Anda. Tidak harus kaya, tapi tulisan ini
mudah-mudahan dapat membuat harta Anda berkah pada bulan-bulan ke
depan, insyaAllah. Berkah itu sedikit tapi mencukupi, kecil ukurannya,
tapi segunung manfaatnya. Rosulullah ketika membangun Madinah, hal
pertama yang beliau bangun adalah pasar, setelah masjid. Ini
menandakan, betapa pentingnya perputaran roda ekonomi bagi suatu
negeri. Agar apa? Agar harta itu tidak menumpuk hanya pada kalangan
orang-orang kaya saja.
Saya tidak tahu berapa jumlah harta
Anda saat ini. Tapi cobalah menghitungnya. Ya, saya serius, cobalah
untuk menghitung harta yang Anda miliki. Tidak perlu seluruhnya, cukup
harta yang berupa uang saja, baik cash maupun dalam bentuk tabungan
Anda.
Anggap saja salah seorang pembaca
memiliki harta berupa uang sejumlah 1 juta rupiah. Bagi sebagian orang,
memiliki harta sejumlah ini terbilang kaya, namun bagi yang lainnya
bisa dianggap kurang.
Silahkan Anda reguk dahulu tehnya, karena setelah ini kita akan sedikit melakukan perhitungan.
Pada saat ini (Mei 2012) uang 1 juta
bisa membeli 200 mangkok bakso, dengan harga bakso paling murah di
tempat saya Rp. 5.000/mangkok. Katakanlah uang 1 juta ini saya simpan
hingga tahun depan. Pertanyaannya apakah tahun depan saya masih bisa
membeli 200 mangkok bakso? Jawabannya adalah “”Tidak”. Mungkin saya
hanya akan mendapatkan 140 mangkok.
Loh, kenapa hal ini bisa terjadi?
Ini kita baru bicara soal 1 tahun,
bagaimana jika 10 tahun? Mungkin uang 1 juta yang sama hanya mampu
untuk membeli 15 mangkok bakso.
Maaf, saya menyinggung-nyinggung bakso,
bukan karena saya doyan bakso. Tapi bakso akan mengingatkan kita pada
lagu waktu kecil saya, ingat gak lagu ini :
“Abang tukang bakso
Mari-mari sini
Aku mau beli
Abang tukang bakso
Cepatlah kemari
Satu mangkok saja
dua ratus perak
yang banyak baksonya”
Jadi harga bakso tahun 1990 itu hanya
Rp. 200, itu pun baksonya sudah banyak. Jadi bisa kita hitung, berapa
kenaikannya hingga tahun 2012 ini. 2.500 % (dua ribu lima ratus persen) dalam 12 tahun. ck.. ck.. ck..
Anda harus mulai ilir (bangun). Kita
hidup seperti ini dianggap biasa. Ekonomi kita terus digerus dari hari
ke hari, dari tahun ke tahun. Di bangku sekolah kondisi ini hanya
diberi nama inflasi, tapi saya bilang ini pembodohan terkeji.
Anda misalnya ingin memiliki rumah.
Taruhlah tipe 36/72 dengan harga 80 juta. Anda misalnya menabung tiap
bulan sebesar 1 juta, maka dalam 80 bulan (6,5 tahun) akan terkumpul 80
juta tersebut. Tapi apakah setelah 6.5 tahun, Anda dapat membeli rumah
yang sama? Lagi-lagi jawabannya adalah “Tidak”. Karena bisa jadi pada
tahun ke-6 harga rumah yang sama akan menjadi senilai Rp. 220 juta. Dan
Anda perlu mengumpulkan lagi hingga 220 juta. Tapi ketika sekian tahun
sudah sampai 220 juta. Maka harga rumah tersebut sudah naik lagi
menjadi 340 juta. Jadilah kita pengumpul uang selamanya, dan tidak
pernah sempat memiliki rumah sama sekali.
Tapi pada kenyataannya orang bisa saja
nekad membeli rumah dengan cara KPR, meskipun kalau di total-total
harus membayar berlipat dari harga pokok rumah tersebut.
Ini soal Anda menyimpan uang di rumah. Bagaimana kalau di bank? Saya hanya akan senyum, coba saja jawab dua pertanyaan ini :
- Berapa sih bunga paling tinggi untuk tabungan?
- Emang mau kelebihannya (riba) yg gak seberapa (3%) dibanding persentase penggerusan yg mencapai 12% pertahun mengotori harta Anda?
Kemudian bagaimana kalau deposito? Podo wae. Silahkan jawab kembali dua pertanyaan di atas.
Jadi simpanan uang Anda, atau dikenal
dengan tabungan, tidak akan pernah menyelamatkan harta Anda. Justru
sebaliknya, diam-diam dikeruk dengan dalih inflasi. Lebih jauh lagi,
dana Anda dikumpulkan untuk membiayai bisnis para konglomerat yang kian
hari kian gede. Al-hasil, si kaya makin kaya, si miskin cuman jadi budak yang tidak bisa keluar dari kemiskinannya.
Silahkan kembali pada Al-Quran, buka surat Al-Hasyr ayat 7.
Ini sesi pembuka. Setuju dengan analisa
di atas atau tidak? Jika Anda tidak setuju, silahkan tutup tulisan ini,
karena tidak akan berguna bagi Anda. Tapi jika Anda setuju bahwa
pembodohan massal ini harus disudahi detik ini juga, Anda bertekad
menyelamatkan harta Anda, maka mari kita lanjutkan ke solusi-solusi
yang harus kita ambil tindakan segera.
Solusi yang pertama, Stop Menabung Rupiah
Rupiah Anda, dan mata uang-mata uang lainnya adalah perampok dalam kekayaan Anda. Jika Anda mempelajari sejarah uang, kesimpulan yang sama akan Anda dapatkan. Ada beberapa sumber referensi, mulai dari buku dan dokumen internet yang tersebar. Anda dapat mulai membacanya jika Anda inginkan.
Rupiah Anda, dan mata uang-mata uang lainnya adalah perampok dalam kekayaan Anda. Jika Anda mempelajari sejarah uang, kesimpulan yang sama akan Anda dapatkan. Ada beberapa sumber referensi, mulai dari buku dan dokumen internet yang tersebar. Anda dapat mulai membacanya jika Anda inginkan.
Jangan menyimpan rupiah di bank, apalagi di bawah bantal. Lalu harus kita apakan uang tersebut?
Solusi yang kedua, Bertahan : Amankan Harta Anda
Ini adalah langkah bertahan. Tukarkan rupiah Anda dengan dinar emas, atau emas murni, bukan emas perhiasan. Karena kalau emas perhiasan, ketika dijual lagi akan terkurangi oleh biaya-biaya lain yang lumayan besar, seperti biaya sepuh.
Ini adalah langkah bertahan. Tukarkan rupiah Anda dengan dinar emas, atau emas murni, bukan emas perhiasan. Karena kalau emas perhiasan, ketika dijual lagi akan terkurangi oleh biaya-biaya lain yang lumayan besar, seperti biaya sepuh.
Emas merupakan alat tukar yang diakui
oleh dunia. Jadi dimana pun Anda berada, emas akan dihargai senilai
berat emas tersebut. Inilah sebenarnya alat tukar yang benar. Yang
selama berabad-abad nilainya tidak berubah. Hanya karena istilah
‘inflasi’ saja seolah-olah nilainya naik, padahal yang turun adalah
nilai rupiah kita.
Kalau lihat di internet, harga emas
pada tahun 1990 senilai Rp. 21.000 /gram. Artinya cukup untuk beli 105
mangkok bakso (Rp. 200/mangkok). Nah tahun 2012 ini sempat menyentuh
angka Rp. 540.000/gram. Artiya kalau dikonversi ke harga bakso sekitar
108 mangkok (Rp. 5.000/mangkok).
Anda dapat ikut menghitung juga dengan data-data history di bawah ini :
http://www.kitco.com/charts/historicalgold.htmlhttp://www.ortax.org/ortax/?mod=kurs&page=neg
Seperti dapat Anda lihat 1 gram emas
dari tahun 1990 hingga 2012 kebal dengan penggerusan kekayaan. Tetap
dapat dipakai untuk membeli sekitar 100-an mangkok bakso. Kalau pun
sekarang harga bakso bahkan ada yang mencapai Rp. 15.000, ini hanya
kreatifitas pedagang melariskan jualannya. Hitung-hitungan di atas
adalah harga bakso standar, meskipun saya sendiri tidak begitu memahami
standarnya seperti apa?
Okey, jadi ini adalah solusi bertahan.
Jika Anda punya kelebihan harta, maka selain dinar emas, atau emas
murni, anda dapat pertahankan kekayaan Anda dengan menukarkannya
menjadi property, seperti tanah misalnya. Aset dalam bentuk property
inilah yang terbukti pula secara puluhan tahun, sanggup bertahan dan
stabil.
Sekali lagi, ini hanya untuk bertahan.
Dan bertahan adalah langkah terakhir orang-orang yang kehabisan ide.
Makanya Islam mewajibkan zakat maal sebagai penggantinya. Saya hanya
menyampaikan kembali apa yang sudah saya baca dan lakukan selama ini.
Saya menginginkan uang 1 juta Anda hari ini menjadi bermiliyar seperti
yang saya lakukan 2 tahun terakhir ini.
Anda, sahabat terdekat saya boleh tidak
percaya. Karena tidak ada sesuatu yang istimewa dan mencirikan saya
memiliki harta sebanyak itu. Kendaraan tidak punya, handphone pun
biasa, tempat tinggal pun masih ngontrak. Tapi kenapa saya mengklaim
punya harta sebanyak itu?
Solusi ketiga, Menyerang : Buat Harta Anda Berkah
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr, 59:7)
Saya tidak menemukan perintah menabung
dalam Al-Quran, yang ada adalah perintah menafkahkan harta pada
beberapa ayat Al-Quran. Ayat-ayat yang ditemukan tersebut menyebutkan
“nafkahkanlah sebagian”. Karena disebutkan kata “sebagian”, saya belum
dapat mengambil kesimpulan, yang sebagian lainnya digunakan untuk apa.
Tapi lupakanlah terlebih dahulu tentang sebagian itu. Saya terfokus
dengan kewajibannya, yaitu “nafkahkanlah”.
Setelah saya tanya kepada sahabat saya
yang saat ini tinggal di Makkah, “nafkah” itu seakar dengan kata
“infaq” yang berarti “mengeluarkan”. Meskipun ada artian “bekal”, namun
katanya, tidak dapat disamakan dengan “tabungan”. Oleh sebab itu, saya
meyakini bahwa yang dimaksud dengan “menafkahkan harta” adalah
mengeluarkannya untuk kebaikan, bukan mengeluarkan untuk berfoya-foya,
tidak pula hanya mengeluarkannya dalam arti sempit untuk memenuhi
kewajiban zakat saja.
Sahabat saya ini bilang harta itu seperti air. Jernih jika mengalir, kotor jika menggenang.
Dua tahun yang lalu saya menjual
BlackBerry saya. Waktu beli harganya Rp. 2.500.000, saya jual setelah
memakai 9 bulan menjadi Rp. 1.700.000. Saya jual murah waktu itu,
karena yang beli cantik… hehehe.. *bercanda* Yang beli sudah bapak-bapak, tapi beliau bawa gadisnya yang cantik.. *hahahaha… sama aja*
Bersama sisa uang saya yang gak
seberapa, saya kumpulkan untuk membeli 2 koin dinar emas, dan beberapa
lagi koin dirham. Tadinya pengen buat mahar nikah. Tapi karena yang
satu koin dinar emas dibeli lagi oleh salah seorang teman, jadilah
belum jadi nikahnya.. *hahaha, bercanda lagi, bukan karena itu alasannya*
Waktu itu satu koin dinar emas seharga
Rp. 1.600.000 setara kambing kualitas super. Uang fresh tersebut saya
gunakan untuk berdagang. Ya, seperti anjuran Rosulullah, Berdagang. Dan
seperti perintah Al-Quran, Nafkahkan. Hanya dua itu yang saya pegang,
keuntungan berdagang tidak pernah saya simpan, tapi gulirkan kembali
untuk berdagang. Jadi setiap hari, saya hampir tidak punya uang,
kecuali untuk membeli kebutuhan pokok harian, atau untuk urusan
bermuamalah lainnya dengan orang lain.
Saya membayangkan, jika BlackBerry itu
masih saya pakai hingga saat ini. Maka saya tidak mungkin memiliki
persediaan barang dagangan yang ratusan juta. Tidak mungkin total
rupiah barang tersebar ke pasar bermilyar. Yang dengan barang itu
terbuka peluang usaha bagi orang lain. Ada yang terselamatkan karena
habis di PHK, ada yang membuka kursus, ada yang menjual alat kreatif.
Ada pula yang bisa segera lulus kuliah. Bahkan tukang ojek sekitar
rumah pun kecipratan lebihnya, karena ada objek tambahan. Kurir
nasional pun kebagian, karena banyaknya kiriman. Silaturahim dengan
banyak orang, dari berbagai kalangan juga hal yang tidak bisa
tergantikan.
Inilah rasanya menjadi pedagang
sekaligus pendidik. Pada dasarnya hanya hartalah yang kita alirkan,
yang kita putar, yang kita nafkahkan. Kalau dengan sebuah blackberry
saja bisa memutar roda perekonomian puluhan orang. Bagaimana bila
tabungan Anda pun demikian? Bagamaina jika kendaraan bermotor Anda yang
tidak produktif dinafkahkan? Bagaimana jika ini bukan hanya dilakukan
oleh Anda ataupun saya. Tapi ini dilakukan oleh kita semua? Saya
optimis, pengangguran dengan sendirinya teratasi, kemakmuran yang
merata pun bukan hal yang mustahil. Kita bukan saja selamat dari
inflasi, tapi kita menyelamatkan saudara kita dari kemiskinan.
Inilah yang Islam katakan dengan barokah. Sedikit tapi mencukupi, kecil tapi manfaatnya segunung.
Segera jadikan harta Anda barokah, atau membiarkannya dirampok terang-terangan.
*bersambung*